Thursday, December 22, 2005

Buku, Marketing, Pendidikan

Aku sebenarnya bukan pembaca buku yang baik. Ibarat kutu buku, aku mengacak-acak isi buku. Hanya sedikit buku yang kubaca lengkap dan berurut, dan biasanya itu buku biografi. Buku "autobiografi fiksi" (maksudku novel dengan sudut pandang orang pertama) namun benar-benar mempengaruhi imajinasiku adalah "si Alui" yang kubaca ketika kelas 1 atau 2 MI. Ceritanya sangat sederhana, namun sampai sekarang saya dapat menceritakan, bahkan membayangkannya, dengan baik.

Model seperti apakah bukumu ini? "Bukan Salah Bunda Mengandung" (1995) & "Kutelusuri Pematang Kehidupan" (2000).

Kedua buku itu telah lenyap dan satunya lagi dilenyapkan untuk alasan "agar masa lalu tak menjerat masa depan". Aku sempat menyesal dengan ketiadaan kedua buku itu, begitu banyak yang suka, maklum tidak jarang satu kalimat merupakan hasil perenungan yang dalam. Satu kalimat yang kuingat: "Kupungut ranting-ranting kisah yang berserakan, dan kurantingkan agar tampak jelas pada koordinat takdir aku berada."

Aku sempat menyesal dengan ketiadaan kedua buku itu, namun setelah kusadari keduanya hanya sarana aku pun lega. "Sarana mengikuti tujuan", ini kaidah ushul fiqh yang cukup penting dan juga salah satu inti dari keilmuan teknik industri. Ya, tujuan dari semua penulisan itu adalah self-therapy, maka ketika aku menulisnya begitu intens aku membaca buku tentang psikologi dan filsafat. Tepat, aku meng-autobiografi-kan psikologi, filsafat, dan tentunya keasyikan dalam kebingungan beragama.

Ketika aku menulis "Kutelusuri Pematang Kehidupan" (2000), seorang sahabat--pengurus penting di koperasi mahasiswa ITB yang meminjami aku komputer, berniat meng-komersial-kannya. Tentu aku keberatan, sebab aku terlalu jujur untuk sebuah publikasi.

Namun sejak itu pula aku tenggelam dalam dunia tulis-menulis. "Daripada gila karena ngomong sendirian, lebih baik aku menulis sendirian," demikian pembenaran yang selalu kupegang. Namun tidak mudah untuk menghilangkan sesuatu yang telah menjadi bagian diri--aku tak bisa berhenti menulis meskipun aku sempat sangat membenci autobiografi. Dari alasan ini aku kemudian memunculkan kembali gagasan Paradigma Titik Ba.

Mas Birin yang telah memberiku arahan dan dorongan untuk menulis (tentu jauh lebih banyak dari yang Mas sadari),

Pada titik ini saya harus "bentrok" dengan Mas Birin. Adikku yang (pernah) di Gontor begitu senang menulis, dia bergabung dengan Lingkar Pena. Dia punya bakat yang luar biasa--menurutku--dan hal itu yang aku takutkan. Tepat, karena kebiasaan menulis, bakat di bidang ilmu eksakta seakan-akan terkikis. "Kau harus punya gagasan, baru kau punya tulisan," tantangku. Aku selalu berharap, "bentrok" kita di sini tak pernah diselesaikan, agar kekitaan kita tetap dalam keseimbangan yang dinamis.

Sekarang, dari pengalaman yang panjang, aku belajar memilah tulisan berdasarkan tujuannya: untuk diri sendiri, untuk kelompok tertentu, atau untuk publik. Dua yang pertama, aku berhasil besar. Untuk diri sendiri, aku tak pernah dibawa ke rumah sakit jiwa. Untuk kelompok tertentu, aku yakin namaku tidak lekas usang di SMA Negeri 1 Tegal dan Teknik Industri ITB. Untuk kategori yang ketiga, aku baru sedang "mencari".

Selama ini, aku tak begitu peduli dengan aspek marketing sebuah buku. "Pengakuan intelektual", ketika itu, bagiku lebih penting daripada royalti seorang penulis. Meskipun pengakuan intelektual berakibat pada kepercayaan dan berujung pada akses yang begitu terbuka pada figur-figur terpandang, namun ada sesuatu yang terasa kurang jika aku tetap diam di posisi ini. "Penerimaan publik" harus menjadi tujuan berikutnya.

Ketika PTB menjadi "mahar pernikahan", aku mulai berpikir lebih serius tentang bagaimana agar PTB dapat diterbitkan. Saat-saat ini aku lagi mulai belajar lagi tentang marketing yang kuharapkan berakibat pada sebuah buku yang marketable.

Satu hal yang menjadi tujuan terselubung (vested interest) PTB adalah bagaimana "menyentil"--kalau bisa sih "menyentul"--dunia kependidikan kita yang lagi kebingungan. Pada masa lalu telah kubuktikan, dengan caraku yang ketika itu masih trial and error, di bangku sekolah aku tak berada di peringkat ekor. PTB adalah wacana, ia merupakan kegelisahan penulisnya yang diselubungkan. Untuk tataran aksi dan orientasi masa depan?

Adikku datang hendak minta diajari privat fisika. Kuambil bukunya yang banyak rumus, lalu kutandai silang semua. "Rumus adalah sampah!" tulisku di antara tanda-tanda silang yang kuberikan. Kalimat itu aku ulangi berkali-kali, agar dia mau menambang kejernihan kesadaran dari dalam, dan tak terpaku pada simbol--kata "khuldi" yang dibisikkan iblis. ---Tak ada sesuatu yang aneh, kebenaran pasti sederhana, "Kok kayak gitu thok ya!", sekali kau berpikir aneh kau terbentur dan menyiksa dirimu sendiri--berkali-kali aku doktrin dengan paksa agar dia tidak terpaksa dan tak bosan menerima kebenaran.

Hasilnya? Dia dapat mengerjakan paling cepat dengan nilai tertinggi di SMA Negeri 1 Slawi. Bagiku itu bukan yang terpenting, tapi keberanian dia untuk tidak ragu "membuang sampah pada tempatnya". (Dua kali aku berhasil menerapkan hal yang sama pada teman sebangku, ketika di SMP dan SMA N 1 Tegal. Hasilnya sama: keduanya melejit).

Anjuran untuk "membuang sampah pada tempatnya" merupakan tema utama PTB. Sampah yang tampak tak bermasalah. Tapi sampah mental--semuanya bersifat radioaktif. Kalau ada kesempatan, aku ingin berkampanye tentang anjuran sederhana itu--sangat murah tapi aku yakin--dengan menyadari hal ini (sesuatu yang kurenungi dalam-dalam sampai-sampai hampir tenggelam) kecerdasan dan keberdayaan umat segera terangkat.Wallahu a'lam

0 Comments:

Post a Comment

<< Home